Kualitas kepribadian seorang anak merupakan hasil dari kualitas pengasuhan dan penanganan yang diterima dari orang tua. Ketidakhadiran kedua orangtua dalam kehidupan anak akan menghasilkan ketimpangan dalam perkembangan psikologisnya. Seorang anak yang mengalami fatherless akan mengalami kesulitan untuk memahami kepribadian, kesehatan mental dan pertahanan diri dalam masa pertumbuhannya.
Fatherless, father hunger, father absence, dan father deficit, merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan seorang anak yang mengalami ketidakhadiran khususnya seorang ayah dalam hidupnya.
Kondisi ini dapat disebabkan oleh banyak hal seperti, ditinggal orang tua karena kematian atau perceraian, pola asuh orang tua yang tidak tepat, pengetahuan orang tua yang kurang dalam mengasuh anak, serta perlakuan yang kurang baik dari orang tua angkat.
Kehilangan peran ayah dapat menyebabkan seorang anak akan merasakan kesepian (loneliness), kecemburuan (envy), rasa duka (grief) yang disertai dengan kontrol diri yang lemah (selfcontrol), kurang inisiatif, tidak memiliki keberanian mengambil resiko, dan memiliki kecenderungan terlibat dalam aktivitas negatif seperti penggunaan narkoba, alkohol, seks bebas, tindakan kriminal, dan kelakuan buruk lainnya.
Penting bagi setiap orang tua dan juga masyarakat untuk memberi perhatian dan dukungan terhadap anak dengan fatherless, khususnya mereka yang masih berusia dibawah 17 tahun. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah membangun kepercayaan diri mereka dengan memberikan nasehat, kesempatan belajar, memperlakukan mereka sama seperti anak-anak lainnya, serta memberi dukungan sosial maupun finansial sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak tersebut.