Tegangan di Timur Tengah kembali memanas. Parlemen Iran dilaporkan telah menyetujui langkah strategis untuk menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS) terhadap tiga situs nuklir negara tersebut. Namun, keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang hingga kini belum memberikan kepastian eksekusi.
Selat Hormuz, jalur pengiriman kritis yang dilalui sekitar 20% permintaan minyak dan gas global, kini menjadi pusat ancaman geopolitik. Komandan Garda Revolusi Iran, Esmail Kosari, menegaskan bahwa penutupan selat siap dilakukan “kapan pun diperlukan”. Sementara itu, anggota parlemen senior Behnam Saeedi menyebut langkah ini hanya akan diambil jika kepentingan vital Teheran terancam, meski ia mengakui opsi tersebut tetap di atas meja.
Prioritas Diplomasi, Tapi Ancaman Tetap Menggema
Di tengah eskalasi, Iran mengklaim diplomasi masih menjadi prioritas. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, saat menghadiri pertemuan dengan diplomat Liga Arab di Istanbul, menyatakan bahwa Teheran memiliki berbagai pilihan respons, tetapi tetap membuka ruang dialog. “Jalan diplomasi harus selalu terbuka, tetapi saat ini kami belum menentukan formatnya lagi,” ujarnya. Pernyataan ini disampaikan pasca-serangan AS yang menargetkan fasilitas nuklir Iran pada Minggu dini hari.
Ancaman penutupan Selat Hormuz bukanlah hal baru. Sebelumnya, Iran pernah mengisyaratkan langkah serupa sebagai balasan atas tekanan Barat. Kini, sumber pengiriman melaporkan kapal-kapal komersial mulai menghindari perairan Iran di sekitar selat, meski raksasa pelayaran Denmark, Maersk, memilih tetap beroperasi sambil memantau situasi. “Kami siap mengevaluasi risiko dan mengambil tindakan operasional jika diperlukan,” kata perusahaan tersebut.
Reaksi Internasional: AS Desak China Intervensi
Amerika Serikat tak tinggal diam. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz akan menjadi eskalasi besar, merugikan ekonomi global—termasuk China yang sangat bergantung pada jalur tersebut. Dalam wawancara dengan *Fox News*, Rubio mendesak Beijing untuk “menekan Iran” agar tidak mengambil langkah provokatif. “Ini akan menjadi kesalahan besar, bahkan bunuh diri secara ekonomi bagi Iran,” tegasnya.
Hingga kini, Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan komentar. Sementara itu, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Irak, dan Kuwait yang bergantung pada Selat Hormuz sebagai rute ekspor utama mulai gelisah. Dengan lebar hanya 33 km pada titik tersempitnya, selat ini telah menjadi simbol rapuhnya stabilitas energi global.
Dilema Strategis: Antara Kekuatan dan Konsekuensi
Ancaman Iran mencerminkan upaya memperkuat posisi tawar dalam konflik dengan AS dan sekutu-sekutunya, terutama Israel. Namun, langkah ekstrem seperti penutupan Selat Hormuz berisiko memicu respons militer atau sanksi lebih keras dari Barat. Di sisi lain, kegagalan menindaklanjuti ancaman bisa dianggap sebagai kelemahan.
Sementara itu, masyarakat internasional menanti langkah selanjutnya. Apakah Teheran akan benar-benar memanfaatkan “kartu trump” Selat Hormuz, atau justru mencari jalan keluar melalui diplomasi? Jawabannya akan menentukan apakah kawasan ini menuju jurang konflik bersenjata atau kembali pada meja negosiasi.
Dengan 18 juta barel minyak harian yang bergantung pada jalur sempit ini, dunia memilih untuk menahan napas. Selat Hormuz, sekali lagi, menjadi cermin ketegangan antara ambisi kekuatan dan realitas global.
Bagi sobat andi yang tertarik dengan topik seputar diplomasi, dapat membaca buku berjudul “DIPLOMASI Teori dan Praktik” melalui link dibawah ini.
Baca disini: DIPLOMASI Teori dan Praktik.