Gencatan Senjata Hamas-Israel Telah Dicapai
Setelah konflik berkepanjangan, sebuah angin perdamaian akhirnya berhembus. Hamas dan Israel menyepakati gencatan senjata yang diumumkan oleh pemimpin delegasi Hamas, Khalil Al-Hayya, pada Kamis (9/10/2025). Kesepakatan ini mengakhiri babak peperangan dan membuka jalan bagi proses perdamaian.
“Kami umumkan bahwa hari ini, kita telah meraih kesepakatan yang menghentikan perang dan agresi terhadap rakyat kita,” ujar Hayya.
Butir-Butir Kesepakatan
Sebagai bagian dari kesepakatan, Israel akan menarik pasukannya dari Jalur Gaza, meskipun rincian sejauh mana penarikan ini masih perlu diklarifikasi. Langkah positif lainnya, kelima gerbang pelintasan Gaza, termasuk Rafah yang menghubungkan dengan Mesir, akan dibuka untuk memperlancar arus bantuan kemanusiaan.
PBB melalui Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menyambut baik keputusan ini. Sebanyak 170.000 ton bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan tenda telah bersiap untuk disalurkan ke warga Gaza yang membutuhkan.
Namun, beberapa poin kritis masih belum diumumkan sikap resmi dari Hamas, seperti isu perlucutan senjata dan penyerahan pengelolaan sementara Gaza kepada sebuah dewan yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump dan mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair.
Proses Pembebasan Sandera dan Tahanan
Dalam 72 jam ke depan, fokus utama adalah pembebasan sandera. Hamas diwajibkan menyerahkan 48 sandera yang mereka tawan kepada Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yang kemudian akan diserahkan kepada militer Israel di Pangkalan Re’im untuk dipulangkan ke keluarga mereka.
Sayangnya, proses ini tidak tanpa tantangan. Dari 48 sandera, dilaporkan bahwa 28 orang di antaranya telah meninggal, sehingga proses pengumpulan dan pemulangan jasad mereka mungkin membutuhkan waktu lebih lama.
Setelah semua sandera dipulangkan, Israel akan membebaskan 2.000 tahanan Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak. Media Israel, Channel 12, melaporkan adanya klausul tambahan jika terdapat jasad sandera yang tidak dapat ditemukan.
Peran AS dan Dunia Internasional
Presiden AS Donald Trump menyatakan kegembiraannya atas pencapaian gencatan senjata ini, yang bertepatan dengan pengumuman Nobel Perdamaian. Trump, yang dijadwalkan berkunjung ke Timur Tengah pada Minggu (12/10/2025), kemungkinan besar akan menerima undangan dari Presiden Mesir, Abdel Fatah el-Sisi, untuk menyaksikan momen bersejarah ini.
“Banyak yang menganggap mustahil saya menyelesaikan konflik di Palestina. Ternyata bisa. Sekarang, perdamaian abadi datang ke Gaza,” kata Trump.
Amerika Serikat juga berencana mengirim sekitar 200 personel pasukan sebagai bagian dari pasukan gabungan pengawas perdamaian yang juga melibatkan Mesir, Qatar, dan Turki. Meski demikian, seorang pejabat militer AS menyatakan bahwa pasukan mereka tidak akan menginjakkan kaki di Gaza. Kejelasan mandat dari Dewan Keamanan PBB untuk pasukan gabungan ini masih ditunggu.
Dukungan juga mengalir dari sejumlah pemimpin dunia. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut baik kesepakatan ini. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, secara khusus memuji kemauan politik Trump yang dianggap berhasil menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Tekanan Trump terhadap Netanyahu diduga kuat terjadi setelah insiden serangan drone Israel di Doha, Qatar, awal September yang menewaskan anggota delegasi Hamas dan petugas keamanan Qatar—sebuah pelanggaran kedaulatan sekutu AS di kawasan.
Peringatan dari Pengamat
Meski memberi harapan, pakar Timur Tengah dari Universitas Georgetown, Khaled Elgindy, mengingatkan bahwa perjanjian ini belum final. Ia menilai kesepakatan ini cenderung memberatkan Hamas, yang kerap dituding sebagai biang kerok konflik sejak Serangan Badai Aqsa 2023.
Elgindy menekankan bahwa konflik Israel-Palestina memiliki akar sejarah yang sangat panjang, jauh sebelum tahun 2023. Hamas, menurutnya, bukanlah penyebab tunggal, melainkan juga merupakan dampak dari perlawanan terhadap pendudukan dan agresi Israel yang telah berlangsung lama.
“Kita harus pantau perkembangannya. Jangan sampai Israel menciptakan dalih-dalih baru untuk mengokupasi Palestina,” pungkas Elgindy, mengingatkan agar komunitas internasional tetap waspada.
Dengan ditandatanganinya gencatan senjata ini, dunia berharap ini adalah langkah pertama yang konkret menuju perdamaian abadi, meski jalan yang dilalui masih panjang dan penuh tantangan.
Bagi sobat andi yang tertarik dengan topik seputar diplomasi, dapat membaca buku berjudul “DIPLOMASI Teori dan Praktik” melalui link dibawah ini.
Baca disini: DIPLOMASI Teori dan Praktik.