Pada Minggu, 23 Februari, Iran mengeluarkan kecaman keras terhadap Israel setelah jet tempur negara tersebut terbang rendah di atas pemakaman pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, dan penerusnya, Hashem Safieddine, di Beirut, Lebanon. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyebut tindakan ini sebagai “terorisme keji terhadap warga sipil.”
Baghaei menegaskan bahwa manuver Israel tersebut mencerminkan batas terendah dari tindakan mereka. Ia menyatakan, “Jet tempur Israel berusaha menakut-nakuti ratusan ribu warga Lebanon yang hadir untuk memberi penghormatan kepada para pahlawan mereka.” Ia juga menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk insiden ini sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Lebanon.
Menteri Pertahanan Israel, Yoav Katz, membela tindakan tersebut dengan menyatakan bahwa penerbangan jet-jet itu adalah pesan tegas bagi siapa saja yang berusaha mengancam Israel. Katz menekankan bahwa pesawat-pesawat Angkatan Udara Israel tidak hanya menjadi simbol kekuatan, tetapi juga peringatan bagi musuh-musuhnya.
Kematian Hassan Nasrallah, yang terjadi akibat serangan udara Israel pada September 2024, telah meningkatkan ketegangan antara Israel dan Hizbullah. Meskipun Israel tidak secara langsung mengonfirmasi keterlibatannya dalam pembunuhan tersebut, serangan itu dianggap bagian dari strategi Israel untuk menghadapi ancaman dari kelompok militan di perbatasan utara.
Insiden ini menambah lapisan kompleksitas dalam hubungan yang sudah tegang antara kedua negara, menunjukkan betapa rentannya situasi di kawasan tersebut.
Bagi sobat andi yang tertarik dengan topik seputar hubungan internasional, dapat membaca buku berjudul “Agama dan Kajian Hubungan Internasional” melalui link dibawah ini.
Baca disini: Agama dan Kajian Hubungan Internasional.