Pada tanggal 17 Desember, suasana di puncak Gunung Hermon dipenuhi ketegangan dan harapan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berdiri di sana, mengumumkan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di zona penyangga di perbatasan Suriah hingga ada aturan baru yang menjamin keamanan negara. Netanyahu adalah pemimpin Israel pertama yang menginjakkan kaki sejauh itu ke wilayah Suriah.
Wilayah selatan Suriah telah berada di bawah kendali Israel setelah penggulingan Presiden Bashar al-Assad. Namun, kehadiran pasukan Israel di zona penyangga seluas 400 kilometer persegi tidak luput dari kritik. Banyak pihak menuduh Israel melanggar gencatan senjata yang disepakati pada tahun 1974, menganggap tindakan tersebut sebagai pemanfaatan kekacauan untuk memperluas wilayah.
Menteri Pertahanan Israel, Katz, turut hadir dalam kunjungan tersebut. Ia menggambarkan puncak Hermon sebagai “mata negara Israel,” menekankan pentingnya lokasi itu untuk mengawasi potensi ancaman. Katz menginstruksikan militer untuk memperkuat kehadiran mereka di area strategis ini. Meskipun ada peningkatan kekuatan militer, pejabat Israel menegaskan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk mengevakuasi warga Suriah yang tinggal di desa-desa zona penyangga.
Dengan latar belakang konflik yang berkepanjangan, puncak Gunung Hermon kini menjadi simbol ketegangan dan harapan akan keamanan di kawasan yang dilanda ketidakpastian.
Bagi sobat andi yang tertarik dengan topik seputar intelijen, dapat membaca buku berjudul “INTELIJEN : TEORI INTELIJEN DAN PEMBANGUNAN JARINGAN EDISI KE X” melalui link dibawah ini.
Baca disini: INTELIJEN : TEORI INTELIJEN DAN PEMBANGUNAN JARINGAN EDISI KE X.