Minuman manis kekinian seperti kopi susu, boba, atau matcha latte telah menjadi bagian gaya hidup sehari-hari. Namun, konsumsi gula berlebihan diam-diam mengancam, meningkatkan risiko diabetes melitus bahkan di kalangan muda.
Dr. Roy Panusunan Sibarani, Sp.PD-KEMD, FES, spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes, memperingatkan bahwa usia muda pun rentan mengalami prediabetes. Pada fase ini, kadar gula darah puasa berkisar 100-125 mg/dL, melebihi batas normal (70-90 mg/dL). Meski belum tergolong diabetes, prediabetes berpotensi berkembang menjadi diabetes tipe 2 jika tidak ditangani.
“Kadar gula darah puasa konsisten di atas 126 mg/dL sudah termasuk kriteria diabetes,” tegas dr. Roy. Dia menguraikan gejala awal yang patut diwaspadai:
- Sering Lapar dan Cepat Lelah: Tubuh kekurangan insulin atau insulin tidak bekerja optimal untuk mengubah glukosa menjadi energi. Akibatnya, rasa lapar dan lelah muncul terus-menerus.
- Sering Buang Air Kecil (Poliuria): Kadar gula darah tinggi memaksa ginjal bekerja ekstra, menghasilkan urin lebih banyak.
- Mudah Haus dan Mulut Kering (Polidipsia): Hilangnya banyak cairan melalui urin memicu dehidrasi, menyebabkan rasa haus berlebihan dan mulut kering.
- Penurunan Berat Badan Drastis: Ketidakmampuan tubuh menyerap energi dari gula memaksa pembakaran cadangan otot dan lemak, sehingga berat badan turun tanpa penyebab jelas.
- Penglihatan Kabur: Perubahan kadar cairan tubuh dapat menyebabkan pembengkakan lensa mata, mengaburkan penglihatan. Komplikasi jangka panjang pada retina (retinopati diabetik) berisiko menyebabkan kebutaan.
- Kesemutan atau Mati Rasa (Neuropati): Kadar gula darah tinggi merusak saraf, terutama di tangan dan kaki, menimbulkan sensasi kesemutan, mati rasa, panas, terbakar, atau nyeri tajam. Kerusakan saraf juga mengurangi sensasi rasa sakit/suhu, meningkatkan risiko luka tak terdeteksi.
Deteksi Dini: Langkah Krusial
Mengenali gejala-gejala ini sedini mungkin sangat vital. Jika mengalami beberapa tanda di atas, segera lakukan pemeriksaan kesehatan. Deteksi dini melalui skrining gula darah (tes gula darah puasa, tes toleransi glukosa oral, atau tes HbA1c) sangat menentukan keberhasilan pengelolaan kondisi.
Pencegahan dan Pengelolaan:
Batasi Asupan Gula: Kurangi konsumsi minuman manis, makanan olahan, dan karbohidrat sederhana.
- Pola Makan Seimbang: Perbanyak serat dari sayur, buah, dan biji-bijian utuh. Pilih sumber protein sehat dan lemak baik.
- Aktif Bergerak: Rutin berolahraga minimal 30 menit sehari membantu meningkatkan sensitivitas insulin.
- Pertahankan Berat Badan Ideal: Kelebihan berat badan merupakan faktor risiko utama.
- Rutin Cek Kesehatan: Lakukan pemeriksaan gula darah secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga atau pola hidup kurang sehat.
Jangan anggap remeh ancaman diabetes di usia produktif. Kenali gejalanya, lakukan deteksi dini, dan terapkan pola hidup sehat mulai sekarang untuk melindungi masa depan Anda. Konsultasikan segera dengan tenaga medis jika mengalami gejala yang mengkhawatirkan.
Bagi sobat andi yang tertarik dengan topik seputar diabetes, dapat membaca buku berjudul “Diabetes Masih Bisa Dikalahkan, 5 Rahasia Mengalahkan Diabetes” melalui link dibawah ini.
Baca disini: Diabetes Masih Bisa Dikalahkan, 5 Rahasia Mengalahkan Diabetes.