Lembaga riset CORE Indonesia mengungkapkan gejala tidak biasa pada pola konsumsi rumah tangga menjelang Ramadan dan Lebaran 2025.
Data BPS menunjukkan deflasi 0,48% (bulanan) pada Februari 2025, dipicu penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau (-0,12%)—sektor yang biasanya mengalami inflasi jelang hari raya. Padahal, insentif diskon listrik 50% dari pemerintah hanya menjelaskan sebagian deflasi, sementara pelemahan permintaan masyarakat menjadi penyebab utama anomali ini.
Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2025 diprediksi turun 0,5% (yoy), dengan penjualan ritel seperti Indomaret, Alfamart, dan Ramayana melambat drastis (hingga 0,1%).
Impor barang konsumsi juga merosot 21% dibandingkan tahun lalu. Survei Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik Lebaran 2025 hanya 146,5 juta orang, turun 24% dari 2024, mencerminkan tekanan pendapatan kelompok menengah bawah yang membatasi belanja dan aktivitas mudik.
CORE menyoroti maraknya PHK, sulitnya akses ke lapangan kerja formal, dan deindustrialisasi dini sebagai penyebab utama pelemahan daya beli.
Jika tidak segera diatasi, kondisi ini berisiko menggerus pertumbuhan ekonomi, menurunkan kesejahteraan, dan memicu konflik sosial akibat tekanan ekonomi.
CORE mendesak pemerintah memperkuat sektor riil dan menciptakan kebijakan yang mampu mengerek daya beli masyarakat.
Bagi sobat andi yang tertarik dengan topik seputar ekonomi, dapat membaca buku berjudul “Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro” melalui link dibawah ini.
Baca disini: Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro.